Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Manfaat Minum Air Putih Hangat

Pernahkah suatu pagi kita terbangun dengan rasa haus yang luar biasa? Apa yang akan dipilih untuk menghilangkan rasa haus tersebut? Apakah air dingin yang menyegarkan atau air hangat yang menawarkan manfaat? Tidak jarang dari kita akan memilih air dingin,  bahkan jika perlu air yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin. Tentu selain memperoleh rasa dinginnya yang menyegarkan, harapan melenyapkan rasa haus dengan segera juga menjadi tujuan utama. Di lain waktu, minuman apa yang biasanya kita pesan usai menyantap semangkuk bakso? Kebanyakan dari kita akan memilih minuman dingin dengan dentingan es batu yang menari-nari dalam gelas kaca. Pasti sangat menyegarkan. Masing-masing dari kita tahu, bahwa minuman dingin memang lebih menyegarkan. Tapi tidak semuanya sadar bahwa dibalik minuman dingin dan menyegarkan itu ada hal yang bisa jadi membuat tubuh kita mengalami beberapa efek samping karena keseringan mengonsumsinya, seperti lendir dalam tubuh bagian hidung yang meng

Makhluk Asing

"Aaaa... sejak kapan kamu nangkring di sini?" aku kaget dan tidak bisa menerima kenyataan kalau makhluk kecil itu menempel dan numpang hidup denganku, "benar-benar tidak sopan !" teriakku menghardiknya yang kini tidak berdaya. Bergayung-gayung air kutumpahkan di atas kepala. Kesal bercampur penasaran, dari mana asalnya?kenapa bisa ada di kepala? Apa mungkin makhluk itu berpikir kalau rambutku ini adalah hutan rimba yang pantas ditempati? Enak saja. "Aresaaaaa... Kamu mandi, apa nguras bak air?" teriak ibu dari ruang dapur. "Are lagi ngamuk, bu...!" sahutku tidak peduli dengan tetangga di sebelah yang mungkin sedang melanjutkan tidurnya. "Cepat mandi dan isi lagi bak airnya sampai penuh!" kali ini suara ibu lebih nyaring, mengalahkan toa surau kampung. Buktinya, tetanggaku itu langsung nyetel lagu dangdut bersyair sendu dengan iringan musik disko. Ahh.. Aku bingung, frustasi dan tak ingin bunuh diri. Saat menggosok rambut yan

Sayang, Sabar ya!

"Kita tunggu hujannya reda, ya!" ucapnya sembari menepuk  lembut punggung tanganku. Mengalirkan sebentuk ketenangan yang entah bagaimana, selalu ada. Langit mulai jingga . Sebentar lagi matahari pulang keperaduan. Kukenakan jaket yang sedari tadi hanya disampirkan di bahu. Dinginnya mulai menusuk. "Sayang...!" panggilku mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap jalan, "hujannya bakalan lama reda. Satu blok dari sini ada jalan besar. Di sana banyak toko-toko, beberapa ada yang menjual jas hujan. Kita beli jas hujan saja, ya?" tawarku. Perjalanan masih jauh, sedangkan jas hujan tidak tersedia di motor. Sampai kapan menunggu berteduh hingga hujan reda? Pikirku. "Tapi sekarang hujannya masih lebat, Nda." protesnya. "Tidak apa-apa, ada jalan pintas agar lebih cepat sampai ke toko itu." Aku memaksa. Ini harus, sebab waktu terus berputar. Satu jam dari tempat kami berdiri saat ini ada sebuah kapal kecil yang menunggu. Sampa

Gagal

Tiba-tiba aku merasa lemah. Pandanganku mulai buram. Samar-samar masih kutangkap suara para peserta membaca surah. Apa benda sepertiku juga bisa kerasukan. Tepat enam detik kemudian,  aku merasakan tubuh ini melayang. Sebelum menyentuh lantai dan berderai, masih kutangkap suara Mery yang cekikikan. "Sudah dapat dipastikan kali ini akan gagal. Acara ini, tujuan mereka dan tugasku, semua akan gagal." batinku Tiga hari ini tugas menyetorkan bacaan surah Al-Jinn dengan tartil menjadi ujian bagi para peserta calon guru tahsin. Indikasi semacam kejadian kali ini memang tidak asing lagi. Demikian penjelasan ustadz Rozi disela-sela meladeni Mery yang mulai lemah. Makhluk halus di dalam tubuhnya mungkin sebentar lagi akan menyerah. "Yang sudah baikan, setorkan lagi tugas hafalan yang tadi!" perintah ustadz pada peserta calon guru tahsin. Tinggal Mery yang masih bertahan. Tubuhnya bergetar. Perlahan ia merangkak mendekati Ustadz Rozi. Tangannya menggapai-gapai hendak

Kembali ke Cahaya

"Bu, tunggulah disini! Sebentar saja, Aku akan segera kembali." Umar berlari sekuat tenaga. Meninggalkan gubuk kecil di belakang punggungnya. Sesekali giginya berbunyi menahan dingin yang semakin tajam menusuk kulit. "Kamp Khan Younis... Khan Younis..." berulang-ulang bibir mungil Umar merapal nama tempat pengungsi yang terletak jauh di sebelah selatan jalur Gaza. Musim dingin membentang, menekan dan mencekam keluarga-keluarga miskin di pengungsian. Sesekali bantuan datang dari berbagai pihak. Tentunya dengan segala kesulitan melewati jalan masuk ke jalur Gaza. Banjir yang timbul akibat blokade yang berlangsung lama juga melengkapi usaha para sukarelawan yang hendak membagikan bantuan. "Di sana ada makanan, ada pakaian tebal, jika beruntung, kau juga bisa meminta selimut." Begitu berita yang Umar peroleh dari teman dan tetangganya yang mengungsi beberapa hari yang lalu. "Ya..., semoga aku beruntung. " Umar berbicara pada dirinya se

Pagi

Pagi. Seperti biasanya pagi datang lagi. Mengganti gelap menghampar terang yang perlahan, bersama iringan hawa dingin menjilat lembut kulit tubuh. Pagi yang selalu dinanti. Tapi, kali ini ada banyak yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ya ..., pagi ini kamu tidak ada. Tidak ada wajah yang kutatap sekian puluh detik hingga puas sebelum beranjak turun dari ranjang. Tidak ada hembusan nafas dengan sisa aroma tembakau yang menggelitik rongga hidung. Tahukah? Ini ritual pagiku, mengagumi ciptaan Tuhan yang dilingkarkanNya di tanganku. Kamu. Sebuah karunia. Lantas ..., waktu berganti. Sepi mulai merajut jubah. Sungguh..., Aku sedang tidak berduka. Hanya sedikit bingung dengan ruang kosong yang tercipta, membuat jalanku terasa timpang. Ada bagian yang hilang dan kamu membawanya serta, pulang. Bahkan, selepas mengantarmu terbang, aku lupa jalan kembali ke peraduan, berputar-putar melewati jalan yang berbeda. Berkali-kali salah arah. Parah. Aku kosong ..., ini sungguh ter