Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Haya

Menjadi bisa karena dilatih untuk bisa. Dilatih bisa dengan berpikir bisa. Berpikir bisa sebab potensi kita untuk bisa. Kita bisa, yakin bisa dan pasti bisa. Tentu atas izin-Nya.  Kalimat motivasi ini Yasa resapi dengan baik. Hasil dari rangkuman lintasan pikiran yang iseng-iseng ditulisnya dengan tangan kiri, tangan yang selama ini jarang sekali diajak ikut serta untuk bekerjasama mengabadikan kata-kata yang terlintas di kepalanya.  Mengingat motivasi, ada salah satu kenangan yang sangat berkesan di hati Yasa. Seorang sahabat yang Tuhan jadikan salah satu cara mengalirkan hidayah -Nya untuk Yasa mengenal diri lebih baik lagi.  Yasa tidak pernah tahu jika binatang yang disukai bisa menjadi bahan untuk mengenal kepribadian seseorang. Maka dengan rasa ingin tahu yang besar ia memberikan tiga nama binatang yang disukainya--pada seorang sahabat, beserta alasan mengapa binatang-binatang itu dipilih walau sebenarnya tidak semua binatang itu ia pelihara.  Jika boleh, Yas

Somnolent Detecment - 2

"Pagi cantik, ayo bangun! Sekarang sudah jam 4.30, sebentar lagi azan subuh akan terdengar." Ayah menepuk lembut pipi Sarah. Menarik selimut yang menutupi tubuh mungil itu ke arah bawah, menyisakan sedikit bagian selimut menutupi kaki putrinya agar udara dingin bisa dirasakan. Jendela kamar kemudian dibukanya satu persatu, Ayah berniat sekali membuat putrinya bangun lebih awal dengan bantuan angin yang perlahan berhembus masuk ke dalam ruang kamar. "Sebentar lagi, Yah. Sarah masih ngantuk, lima belas menit saja." tangan Sarah menggapai ujung selimut yang masih menutupi kaki. "Lima menit, Ayah tunggu di ruang sholat!" usai mematikan lampu tidur, Ayah keluar dari kamar, menutup pintunya perlahan. Meninggalkan Sarah dengan lima menit jatah sisa kantuknya. Hei, kamu masih mengantuk, bukan? Mau bergabung dengan kami? Mari ke tempat kami, disana sangat menyenangkan. Kamu bisa tidur sepuasnya, itu pun jika kamu mau.  Ya, aku masih mengantuk. Aku ing

Somnolent Detecment *)

Aku ketakutan, tubuhku bergetar halus sebab menahan rasa takut itu.  Kamu ketakutan, lihatlah, tubuhmu tampak bergetar, apakah kamu menahan rasa takut itu mati-matian? Katakan! Katakan!  Sudah cukup! Dia ketakutan, jangan lagi mengganggunya! Lihat! Tubuhnya bergetar menahan rasa takut itu mati-matian. Pergilah kalian dan jangan ganggu dia!  "Pergi.. Pergi! Pergiii...!" teriak Sarah sembari memukul-mukul kasur empuknya dengan tangan. Wajahnya tampak pucat. Bulir-bulir keringat memenuhi keningnya yang berlipat. Ada kecemasan yang membungkusnya dengan sangat erat.  "Sarah.. Sarah..., bangun nak! Bangun!" ayah mengguncang tubuh Sarah perlahan. Menyalakan lampu tidur di samping ranjang kemudian duduk tepat di sisi tubuh Sarah yang basah oleh keringatnya sendiri.  "Ayah.., ayah." seketika Sarah melompat memeluk tubuh lelaki paruh baya yang telah berbaik hati membesarkannya. Lelaki yang memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah kekasihn