Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Diman dan Pilihannya

Pulau Juante adalah pulau dengan urutan ke-63 dari 207 pulau di Kalimantan Barat. Pulau kecil ini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari setengah hari dengan menggunakan jukong (sejenis sampan dalam bahasa Melayu masyarakat Sukadane) yaitu kendaraan yang biasanya digunakan oleh para nelayan setempat untuk menangkap ikan. Pulau Juante menurut keterangan penduduk yang tinggal di pantai pulau Datok adalah pulau yang tidak berpenghuni, sehingga tentu saja hal ini menjadikan pulau Juante sebagai syurga bagi berbagai jenis ikan-ikan laut. Para nelayan dari Pulau Datok kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat seringkali pergi ke Pulau Juante untuk menangkap ikan. Jika sedang beruntung dan cuaca mendukung, para nelayan di sana dapat menangkap berbagai jenis ikan besar, seperti; ikan Tenggiri, ikan Daeng Belang, ikan Simbak, ikan Kakap, ikan Pari, ikan Mayong, ikan Talang, ikan Kelempes, ikan Sembilang, dan jenis ikan-ikan besar lainnya yang bagi masyarakat Sukadane merupakan jenis ikan d

Batasan

Jarum jam dinding dalam ruang lelap mengarah ke barat daya. Dua hari yang lalu tetap sama, arahnya menuju ke sana. Aku lebih senang memandangnya demikian. Merasakan betapa lamban waktu berjalan bahkan tak ada kemajuan, sedang kemungkinan lainnya sudah jauh meninggalkan. Melesat menggapai tujuan, mimpi yang direnjanakan. Apakah waktu sudah berhenti? "Belum, masih seperti biasanya." Tidak ada yang berubah? "Tidak, kecuali penunjuk waktu itu sendiri." Dengarkan! Mari kita perbaiki waktu. Mengubahnya sesuai ketetapan jam dunia. Toh, kita masih bisa melakukan apa saja. "Terimakasih, aku suka seperti ini." Makhluk dalam tubuhku meronta. Meminta apa yang dia suka. Tapi aku sedang berkuasa, titahku tertinggi, melawan berarti mati. Pertarungan ini belum usai. Masih panjang dan sangat lama. Aku tidak ingin kemana-mana. Ruangan ini saja bahkan terlalu luas untuk ditempati, tapi sekaligus sempit dan menghimpit hati. Saat langit terang di luar sana

Jingga Yang Perlahan Luruh

Purnama kesekian, aku menunggu. Lelah berdiri kemudian memilih duduk di pepasiran bibir pantai. Bosan nikmati senandung ombak, kaki kubujuk berjalan sembari menyapa asinnya air laut. Percayalah! Hanya waktu yang akan selalu berbaik hati mengobati setiap kesedihan. Pesanmu, dulu. Dan aku percaya. **** Matahari merangkak perlahan, berbilang jam dengan detik bertumpuk-tumpuk. Memanjat langit dingin pagi, sedang aku baru akan mulai memejamkan mata. Tidur pada pagi yang masih terlalu pagi. Matahari kemudian terkubur tanpa nisan, kembali berbilang hari. Aku cari kamu di setiap jejak senja, pukul tujuh belas lewat empat puluh lima. Tetap, masih belum kutemukan. Lihatlah! Hanya ada jingga yang perlahan luruh . Kesetiaan mengambil nafas-nafasku yang mulai mengeluh. Sunyi ini seketika terdengar merdu. Tak terasa, gelap kian jatuh sempurna, membuka gerbang malam. Kali ini pucuk-pucuk daun Tanjung menebar wangi bunganya yang baru mekar, menunggangi angin. Menyerang sudut hati. Ak

Mengukir Epitaf - Part 2

"Baiklah anak-anak kita akan belajar di lapangan kali ini." "Yeaaa ... " sorak-sorai riuh dalam kelompok belajar yang di bimbing Kasih. Demi mendengar nama tempat yang disebutkan, anak-anak tampak senang sekali. Lapangan yang di sewa untuk setahun kedepan oleh pihak sekolah sebenarnya hanya di pakai untuk upacara, sebab masih banyak semak dan pohon-pohon memenuhi area sekitar. Petugas kebersihan dari pihak yang menyewakan lapangan sedikit lamban mengurusi lapangan sewaan tersebut, bagian yg dibersihkan dan dirapikan hanya sebatas untuk kebutuhan upacara saja, selebihnya rindang dan bersemak, wal hasil kesan yang ditimbulkan sedikit angker karena tidak terawat dan rimbun. **** "Ok, aku akan menunggumu di depan pintu lapangan." "Yakin kau tidak ingin masuk ke dalam? Lapangan yang baru disewa ini cukup menyenangkan untuk dijelajahi." "Aku kali ini sedang malas mengeksplore hal baru, aku tunggu di depan pintu sajalah."

Hari ke-1

Kali ini saya ingin menuliskan apa saja yang saya lakukan dan yang terjadi selama mama tidak ada di rumah. Minimal ini nanti jadi bahan laporan ke mama sepulang dari umroh nanti, bahwa anaknya ini bisa menjalankan amanah dengan baik dan benar. Dimulai dengan pesan-pesan sang kapten sebelum berangkat. "In, jangan lupa kasih ikan makan ya! Ikan yang merah di aquarium besar itu kuat makan, yang abu-abu sih, ndak terlalu, terus nanti beli sayur kangkung untuk makan ikan kaloi yang di tempayan, jangan lupa yaa!" "Iya, Ma." "O.. Iya, tadi baju di mesin cuci belum selesai, tolong bereskan." "Siap ..." sempat-sempatnya sih nyuci, padahal sebentar lagi jadwalnya berangkat, percayalah Ma, anak mama ini bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. "Nanti, kalau buat kopi untuk Datok, cukup satu sendok gula dan satu sendok bubuk kopinya, nasi untuk Datok juga jangan terlalu keras, ya!" "Iya ..., siap Kapten! Udah atuh, Mama fokus j